Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih
Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon
Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia
(Konfusius)
A. ISLAM MENEKANKAN PENDIDIKAN
Sebagai agama, Islam memiliki ajaran yang lebih sempurna dan
komprehensif. Sebagai agama yang sempurna, Islam dipersiapkan untuk
menjadi pedoman hidup sepanjang zaman. Islam tidak hanya mengatur cara
mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri
kepada Allah saja. Melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan
hidup di dunia dan di akhirat, termasuk di dalamnya mengatur masalah
pendidikan.
Sumber utama untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut
adalah al-Quran dan Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al-Quran sebagaimana
telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang
besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan
hadis, sebagai sumber ajaran Islam, diakui memberikan perhatian yang
amat besar terhadap masalah pendidikan.
Di dalam al-Quran dengan sangat jelas Allah Swt berjanji akan
meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan beriman:
Yarfaillahulladzina amanu walladzina utul ilma darajat (QS. QS.
Al-Mujadilah [58]: : 11). Ayat ini menunjukkan bahwa proses memperoleh
ilmu atau pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang
tinggi. Di samping itu, ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang
mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah Swt.
Ayat di atas adalah sebagian kecil dari contoh betapa agama Islam sangat
memandang ilmu sebagai alat yang penting dalam kehidupan. Banyak sekali
kata-kata atau perintah-perintah di dalam al-Quran yang menunjukkan
agar manusia ini berilmu, berpikir, merenung dan sebagainya.
Kalau ditelisik lebih jauh, sebenarnya aktivitas pendidikan telah dan
akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai
berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan kalau ditarik mundur
lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai
berproses semenjak Allah swt. menciptakan manusia pertama Adam di surga
dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh
para malaikat belum dikenal sama sekali (QS Al Baqarah: 31-33).
Tidak hanya di dalam Al-Quran saja, hadis-hadis Nabi Muhammad Saw.
pun banyak berbicara tentang pentingnya ilmu. Nabi Muhammad Saw. telah
mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education),
sebagaimana hadis Uthlubul Ilma Minal Lahdi Ilal Mahdi (Carilah ilmu
sejak dari ayunan hingga liang kubur). Nabi Muhammad Saw. mewajibkan
bagi orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu
(Thalabul Ilmi Faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin).
Nabi Muhammad Saw. Juga pernah bersabda: Carilah ilmu sampai ke
negeri Cina (Uthlubul Ilma walau bissin). Hadis ini merupakan indikasi
nyata urgensi pendidikan. Ketika Rasulullah menganjurkan untuk belajar
sampai ke negeri Cina tentu bukan harus belajar tafsir di sana, sebab
bukan tempatnya. Begitu juga di Cina bukan tempat untuk belajar shalat
ataupun menunaikan zakat. Cina pada zaman Nabi Muhammad SAW, 14 abad
silam, adalah negara yang sudah maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi,
industri, dan perdagangan. Sehingga, Rasulullah menyuruh umatnya untuk
belajar teknologi, perdagangan, dan industri sekalipun kepada orang yang
berbeda keyakinan. Begitu istimewanya pendidikan dalam Islam sampai
diperbolehkan oleh Rasulullah untuk iri kepada mereka.
Khasanah Islam lainnya dalam sejarah para sahabat pun mengisahkan
tentang pentingnya ilmu. Ada suatu kisah dari Muadz bin Jabal Ra. Beliau
berkata: Andaikata orang yang berakal itu mempunyai dosa pada pagi dan
sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih
bisa selamat dari dosa tersebut. Namun sebaliknya, andaikata orang bodoh
itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak
bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya
sekalipun hanya seberat biji sawi.
Ada yang bertanya, Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ia menjawab,
Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera
menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang
dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang
membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu
mudah melakukan apa yang bisa merusak amal salihnya.
Orang berakal tahu mana yang baik dan buruk. Bila ia melakukan
kesalahan maka ia akan langsung sadar dan segera memperbaiki. Sedangkan
orang bodoh, meskipun ia telah berbuat baik, namun bisa jadi ia akan
melakukan kesalahan yang fatal karena kebodohannya.
Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya
Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang
mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt. Kemuliaan manusia terletak pada
akal yang dianugerahi Allah.
Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu
untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah
sebabnya Rasulullah Saw. menggunakan metode pendidikan untuk
memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu
yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada
maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.
Walhasil, diakui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan
yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari
kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka.
Dan yang tak kalah penting adalah menjadikan manusia yang fana ini
abadi.
Orang yang memiliki ilmu, well-educated, well-versed dan bermanfaat
ilmunya, ia akan dikenal meski ia telah mati. Ia akan abadi namanya,
meski jasadnya sudah tiada. Pendidikanlah yang menjadikan ia abadi.
Pendidikan mengabadikan yang fana. Itulah ajaran agama. Sejarah telah
membuktikan hal itu.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk
mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas
kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam
dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian
sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan
manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan
mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi
keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
http://kafeis.or.id/artikel/motivasi/503…